Dua Kapal Milik Pertamina Masih Tertahan di Teluk Arab, Selat Hormuz Kembali di Tutup

waktu baca 2 menit
Minggu, 19 Apr 2026 19:21 0 Asbar Pranandi

Jakarta, Wicara.co – Ketegangan di salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia kembali berdampak langsung pada aktivitas energi Indonesia. Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Perusahaan menyebut situasi di jalur strategis tersebut masih sangat dinamis dan penuh ketidakpastian. Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menegaskan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan secara ketat sembari menjaga komunikasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Kedua kapal PIS saat ini masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. Kami terus memonitor secara saksama perkembangan situasi,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.

Di tengah kondisi tersebut, PIS memilih langkah hati-hati. Koordinasi dilakukan tidak hanya dengan otoritas pelayaran, tetapi juga dengan kementerian terkait guna memastikan jalur yang aman sebelum kapal diberangkatkan. Perencanaan pelayaran pun terus disusun ulang menyesuaikan dinamika lapangan.

Menurut Vega, keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama, diikuti dengan keamanan armada serta muatan energi yang dibawa. “Kami terus melakukan koordinasi intensif, sambil menyiapkan passage plan yang aman,” katanya.

Harapan pun disematkan pada meredanya situasi di Selat Hormuz—jalur sempit namun krusial yang menjadi nadi distribusi energi global. Jika kondisi kembali kondusif, kedua kapal tersebut diharapkan segera melanjutkan pelayaran tanpa risiko berarti.

Sebelumnya, ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz telah kembali ke “kondisi sebelumnya” di bawah kendali angkatan bersenjata. Pernyataan itu merujuk pada situasi yang dipicu oleh kebijakan Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran.

Mengutip kantor berita Tasnim, IRGC menegaskan bahwa jalur perairan tersebut kini berada dalam pengawasan ketat militer dan situasinya tidak akan berubah hingga kebebasan pergerakan kapal menuju dan dari Iran dipulihkan sepenuhnya.

Kondisi ini menempatkan Selat Hormuz kembali sebagai titik rawan geopolitik dunia dan bagi Indonesia, setiap ketegangan di sana bukan sekadar isu global, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok energi nasional.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA