Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara, Aflan Zulfadli saat meninjau dekker yang sering menyebabkan banjir di wilayah Desa Laea, Poleang Selatan, Kab. Bombana | Foto Rizki Wicara.CO – BOMBANA — Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara, Aflan Zulfadli, S.T., M.Eng, turun langsung ke tengah masyarakat Kabupaten Bombana dalam agenda reses tahun pertama masa jabatannya. Kegiatan ini menjadi ruang awal bagi wakil rakyat untuk menyerap denyut kebutuhan warga di daerah pemilihannya. Rabu, (04/2)
Aflan Zulfadli merupakan legislator DPRD Sultra dari Daerah Pemilihan (Dapil) II yang meliputi Kabupaten Konawe Selatan dan Bombana, dua wilayah yang menjadi basis utama dukungan politiknya.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini memilih Desa Laea, Kecamatan Poleang Selatan, sebagai salah satu titik pelaksanaan reses. Di wilayah tersebut, Aflan membuka ruang dialog bersama warga untuk mendengarkan langsung berbagai persoalan dan harapan masyarakat.
Dalam reses tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPRD Sultra ini menerima beragam aspirasi, salah satunya terkait kondisi jembatan penghubung antara Desa Laea dan Akacipong yang selama ini dikeluhkan warga. Jembatan tersebut dinilai vital sebagai akses utama aktivitas masyarakat, namun kondisinya belum memadai dan bersifat sementara.
Masyarakat berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi jangka panjang dengan mempermanenkan jembatan penghubung tersebut agar lebih aman dan layak digunakan.
“Kalau bisa dipermanenkan jembatan penghubung,” ujar salah satu warga Desa Laea saat menyampaikan aspirasinya.

Kegiatan Reses Aflan Zulfadli di Desa Laea, Poleang Selatan | Foto Rizki
Selain itu, warga juga mengeluhkan kondisi salah satu dekker yang seharusnya dibangun sebagai jembatan. Menurut warga, dekker tersebut justru sering memicu banjir karena tidak mampu menampung debit air yang besar, terutama saat musim hujan. Hal ini menyebabkan akses ke beberapa wilayah terputus dan menambah kesulitan warga setempat.
“Jadi ini seharusnya jembatan, bukan dekker, karena dekker ini sering jadi banjir,” ujar salah satu warga dengan harapan agar masalah ini segera mendapatkan perhatian. Mereka pun berharap agar Aflan Zulfadli dapat memperjuangkan agar masalah ini segera diselesaikan dengan mengganti dekker menjadi jembatan permanen, dan mengusulkannya ke instansi terkait di tingkat provinsi.
Selain persoalan infrastruktur, warga juga menyampaikan kekhawatiran terhadap aktivitas perusahaan tambang pasir kuarsa yang beroperasi di wilayah Desa Laea. Kehadiran perusahaan tambang tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan, terutama terhadap lahan, sumber air, dan keberlangsungan hidup masyarakat sekitar.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Aflan menegaskan bahwa reses menjadi momentum penting untuk mencatat dan memahami persoalan riil yang dihadapi masyarakat di lapangan.
“Saat ini saya sedang melaksanakan reses di Poleang Selatan untuk mendengarkan dan menerima langsung aspirasi masyarakat,” ujar Aflan saat ditemui media di sela-sela kegiatan.
Sekretaris Umum DPW PKS Sulawesi Tenggara ini menambahkan, dengan turun langsung berdialog bersama warga, ia memperoleh gambaran utuh terkait persoalan yang perlu diperjuangkan di tingkat provinsi.
“Dengan bertemu langsung masyarakat, saya jadi tahu apa yang harus saya kerjakan dan perjuangkan di tingkat provinsi,” tambahnya.
Reses perdana ini menjadi momentum strategis bagi Aflan Zulfadli untuk menyerap, merangkum, dan membawa aspirasi masyarakat Dapil II Sultra, khususnya Kabupaten Bombana dan Konawe Selatan, sebagai bahan perjuangan kebijakan di DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara.
Tidak ada komentar